Cerpen: JANGAN PANGGIL AKU ANAK AUTIS
Judul : JANGAN PANGGIL AKU ANAK AUTIS
Penulis :
Kiki Oke Yasminiati
“Lapor Upacara Bendera hari Senin, selesai
dilaksanakan,” lapor pimpinan upacara.
“Bubarkan!” jawabku. Upacara pun dibubarkan dan para
siswa dengan tertib memasuki ruangannya masing-masing.
“Bu, ada tamu, sepertinya orang tua siswa mau
mendaftarkan putranya pindah ke sekolah kita,” kata salah seorang guru
menghampiriku.
“Ya, suruh tunggu di ruangan saya,” jawabku.
“Assalamualaikum, Ibu sehat?” sapa murid-murid sambil
berebut bersalaman
“Wa’alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh, alhamdulillah
sehat, Nak. Bagaimana kabar kalian?” jawabku menyambut salam mereka.
“Sehat, Bu. Alhamdulillah,” mereka kompak menjawab.
Kebiasaanku memeriksa kebersihan ruangan kelas, dan
menanyakan kabar mereka. Aku pun memasuki ruang kantor, dan sudah ada dua orang
tamu, orang tua dan anaknya.
“Assalamu’alaikum, Bu. Perkenalkan saya Hadi,” kata
tamu memperkenalkan diri.
“Silakan duduk, ada yang bisa saya bantu, Pak?”
jawabku sambil mempersilakan tamu duduk.
Saya ingin memindahkan anak saya ke sekolah Ibu. Apakah
Ibu menerima?” Pak Hadi to the piont mengutarakan
maksudnya.
“Sebentar Pak! Anak Bapak pindah dari sekolah mana,
dan mengapa dia pindah? Tanyaku heran.
“Dari SMP Mandala, Bu,” jawabnya lagi. “Di sana semua
guru sudah tidak tahan dengan sikap anak saya, dan disuruh pindah ke SLB,”
jelas Pak Hadi. Kemudian menceritakan kronologis keadaan anaknya.
Aris melihat ke sekeliling ruangan. Secara fisik,
tubuhnya sehat tak kurang satu apapun. Tapi ada yang aneh, tatapan matanya
seperti mencerminkan kegelisahan, ingin selalu bergerak, tidak bisa diam. Dia
memegang semua benda yang ada di ruangan, menunjuk sesuatu yang dia tidak tahu.
Sesekali dia bertanya dan kadang dia bicara sendiri.
Ketika kami sedang ngobrol, dia memasuki ke ruangan
Tata Usaha dan mulai mengoperasikan komputer yang ada. Dia mengklik ‘Google’ dan mencari-cari ‘Youtobe’ dan memilih salah satu video ‘instrumentalia
gitar akustik’. Meluncurlah lagu-lagu melankolis dari petikan gitar akustik, dia
terdiam mendengarkan alunan lagu syahdu dentingan gitar akustik.
“Tidak boleh, Nak, nanti rusak komputernya!” larang
salah seorang Tata Usaha yang bernama Bu Armi.
Sepertinya dia sangat menikmati dan penuh ketenangan. Sepintas
aku paham, bahwa dia adalah anak disabilitas
atau anak yang memiliki keterbatasan diri. Aku treyuh melihatnya. Dalam hati
aku ingin membantu, menyelamatkan dia supaya bisa bersekolah.
“Aris …! Pak Hadi membentak dan menggusur Aris dari
kursi komputer. Terlihat penolakan Aris, karena masih ingin mendengarkan
musiknya.
“Sebentar, Pak. Saya coba bujuk,” saranku.
“Aris, nanti lagi mendengarkan musiknya, ya? Ibu guru
mau ngobrol dulu sama Aris dan Ayah, ya?” bujukku.
Anak itu mengangguk dan kembali ke ruanganku.
“Besok, Aris sudah bisa masuk sekolah di sini.”
Jawabku. Terlihat raut wajah senang anak tersebut.
“Bu, besok Aris bisa mendengarkan musik lagi ya!
Pintanya.
“Boleh, tapi Aris harus mau belajar pelajaran yang
lainnya juga, ya?” pintaku
“Iya Bu, Aris mau belajar jawabnya senang.” Jawabnya
senang.
*****
Hari pertama Aris sekolah, anak-anak dan guru sudah
mulai komplain dengan sikap Aris. “Aduh, Ibu … itu anak baru tidak mau diam di
kelas, jalan-jalan keliling bangku temannya.” Cerita Bu Mirna guru bahasa
inggris. Begitu juga guru yang lainnya. Jam berikutnya Aris tidak mau belajar
karena bosan di ruang kelas. Dia berkeliling melihat-lihat kelas yang lain.
Sehingga mengganggu konsentrasi belajar anak-anak di kelas lain.
“Aris, sini sayang …! lebih baik ikut sama Ibu, yang
lain sedang belajar,” ajakku. Dia menurut mengikutiku dari belakang.
“Sini duduk, lihat apa yang Aris suka, sambil ku sodorkan
laptop. Ternyata dia pun bisa mengoperasikan laptop dan membuka youtube, lalu mencari lagi video
instrumentalis gitar akustik. Lalu dia terlihat sangat senang. Kali ini
menonton video pemain gitar akustik. Dia memperhatikan lentik jari tangan yang
sedang memainkan akor gitar. Terlihat dia sangat serius, tenang dan fokus
pandanganya.
Aku paham dia tak bisa dipaksakan untuk belajar mata
pelajaran lainnya.
“Aris di rumah punya gitar?” tanyaku.
“Tidak, Bu,” jawabnya sambil tak lepas pandangan matanya
ke permainan gitar di video.
“Besok, Aris mau belajar gitar? sekarang Aris belajar bahasa
indonesia dulu ya? rayuku supaya mau belajar.
“Iya, Bu. Aris mau belajar, tapi besok belajar gitar
ya Bu?” rajuknya.
Ku beri buku pelajaran bahasa indonesia, dia ternyata
bisa membaca beberapa kalimat, kemudian mulai tertarik lagi pada leptop. “Aris,
baca dulu teks itu!” suruhku.
“Sebentar Bu, Aris ingin lihat yang main gitar lagi.”
Aku tak bisa menolak keinginannya.
Ku putar lagu instrument petikan gitar akustik, tapi volumenya
dikecilkan, sambil dibalikan menyimpan leptopnya supaya tidak terlihat gambarnya.
Lalu aku ajak lagi membaca, kata demi kata, kalimat demi kalimat akhirnya
selesai juga dibacanya, mampu menyelesaikan teks buku yang aku sodorkan. Aku
sangat senang. Ternyata dia butuh rangsangan untuk konsentrasi, dia masih bisa
diarahkan. Aku sudah memiliki satu teknik untuk menenangkan kegelisahan dan
hiperaktifnya anak itu.
*****
Sesuai janjiku, keesokan harinya aku bawa gitar untuk
mengajarinya bermain gitar. Kupetik sebuah lagu sederhana, “Kasih Ibu,” sambil
berdendang.
“Kasih Ibu kepada beta …
tak terhingga sepanjang masa …
hanya memberi tak harap kembali …
bagai sang surya menyinari dunia ….”
“Lagi Bu!” pintanya. Aku pun mendendangkan kembali
lagu Kasih Ibu sampai selesai. Dia sangat fokus melihat jariku menari mindah-mindahkankan
akor nada pada snar gitar, dan juga cara memetiknya.
Kuberikan gitar kepada Aris, sambil membetulkan posisi
tangannya. Lalu satu demi satu akor nada itu dikuasainya, sambil sekali-kali
kubetulkan cara memetiknya. Dia sangat antusias ingin bisa menguasai lagu yang
telah kunyanyikan. Sangat tekun, walau temperamennya kadang-kadang muncul tiba-tiba,
saat mendapatkan kesulitan. Ketika hiperaktifnya sedang terasa, kuputar beberapa
lagu rilexasi dari youtube, supaya emosinya tenang kembali.
Tidak terlalu sulit, akhirnya dia menguasai lagu
“Kasih Ibu” meski belum benar. Tapi dia berusaha dengan sungguh-sungguh. Selain
belajar musik, kuarahkan pula untuk belajar melukis. Sangat terlihat kemampuan
motoriknya sangat baik, dengan mudah dia menguasai kemampuan melukis dan
bermain gitar dibanding teman-teman lainnya. Dia murid khusus, aku mempunyai
program tersendiri untuk dia.
Tidak mungkin pembelajaran yang sama diberikan kepada
anak yang memiliki kebutuhan khusus harus mengikuti pembelajaran yang sesuai
dengan kurikulum yang ada seperti yang lainnya. Ketika Pa Hadi Ayahnya Aris
menjemput, tak lupa saya sampaikan perkembangan Aris.
“Hari ini Aris sangat manis sekali. Dia sudah bisa
menyelesaikan satu lagu, biarkan dia berlatih di rumah.” Pintaku
“Apa? Aris bisa bermain gitar?” Pak Hadi merasa heran.
“Ya, dia cepat bisa,” Jawabku.
“Tolong jangan terlalu sering di bentak, dia
membutuhkan kasih saying dan konsentrasi, sepertinya music membuatnya nyaman. Kita
arahkan, mudah-mudahan dia berbakat dalam bermusik. Jangan terlalu dipikirkan
untuk pelajaran lainnya. Yang dia mampu dan dia senangi itu yang kami berikan.”
Jelasku pada Pa Hadi.
Pak Hadi terlihat memahami cara menghadapi anaknya
sendiri. Dia mengucapkan terima kasih sebelum pulang membonceng Aris.
*****
Saat rapat dewan guru, semua membicarakan Aris anak
berkebutuhan khusus itu. Mereka tertawa melihat kelucuan dalam bersikap saat
pembelajaran. Setelah rapat di mula, saya perlu memberi penjelasan kepada para
guru dengan kehadiran anak berkebutuhan khusus yang merupakan siswa baru di
sekolahku.
“Bapak Ibu guru, mohon maaf bila selama ini terganggu oleh sikap Aris,
memang dia memiliki keterbatasan. Menurut psokolog dia menderita Autis. Untuk
menangani kasus Aris, saya minta Bapak Ibu guru senantiasa berkomunikasi dengan
baik, juga beri pemahaman pada tema-temanya di kelas untuk tidak membulinya.” Kataku
memberi penjelasan saat rapat dewan guru.
“Berikan pelajaran sesuai mata pelajaran, tapi tidak
perlu dipaksakan,” Aku memberikan metode dan teknik pembelajaran untuk
menangani Aris.
****
Permainan gitar Aris sudah terlihat mahir, dengan
cepat dia menguasai beberapa lagu, kadang dia mengiringi teman-temannya
bernyanyi, meski suka marah-marah dan ngotot dengan pendiriannya, tapi
teman-temannya mulai menerima dia dalam pergaulan. Selain itu beberapa lukisan
hasil coretan Aris terpampang di kelasnya.
“Kita tampilkan sebuah lagu yang akan diiringi gitar akustik
dari ananda Aaariiiss …,” pembawa acara memanggil nama Aris, tepuk tangan
sangat meriah menyambut penampilan Aris.
Dia memberi hormat lalu duduk dengan tenang, setelah siap
dia mulai memetik snar gitar melantunkan sebuah lagu
“Mother,
how are you today?
Here
is note from your daughter
With
me everything is ok?
Mother,
how are you today?”
…
Lantunan suara dan petikan gitar membuatku terharu, tak
terasa mengalir air di pipiku melihat kepercayaan diri seorang anak yang
berkebutuhan khusus, penampilan Aris di kegiatan pentas akhir tahun ini membuat
aku bangga.
Ternyata seorang desabilitas
bila mendapat arahan dan bimbingan yang tepat, disertai penuh kasih sayang mampu
melakukan sesuatu yang berarti buat dirinya, dan keterampilan untuk masa
depannya.
Tuhan menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan
kekurangannya masing-masing.
Tasikmalaya.
05 Juli 2019.
Ø KOY
Komentar
Posting Komentar