Cerpen 2: MBC


SURAT UNTUK ISTIFA

Ø  Kuswaidi Syafei

            Atas nama keheningan cuaca subuh dan senja yang telah lama tiarap di negeriku, kukirimkan lagi sebuah surat kencana kepadamu yang lama berdomisili di sana, di keteduhan Negeri Impian, di balik Pulau seribu kenanga. Tentu engkau masih ingat, Istifa, bahwa suratku kali ini yang kukirimkan kepadamu adalah surat yang ketiga puluh tiga kalinya, bagian terpenting dari berbagai episode surat-suratku untukmu yang berkisah tentang pahitnya garam samudra, tentang angin yang kemudian berubah menjadi topan, tentang subuh yang jelita namun selalu dirundung derita, tentang anak-anak kecil yang tidak pernah henti menangis, tentang sungai-sungai yang  telah dikeringkan oleh berbagai hipokrisi dan angkara murka, dan sebagainya, dan sebagainya. Semua itu, istifa, bukanlah merupakan hal yang asing atau ajaib di negeriku, tapi telah menjadi peristiwa-peristiwa lumrah yang biasa kusaksikan bersama saudara-saudaraku di bawah pohon akasia yang selalu berusaha keras mengeringkan air matanya.
            Tentu aku yakin seyakin-yakinnya, Istifa, bahwa engkau tidak akan lagi terkejut atau miris membaca suratku kali ini. Karena setiap kabar buruk yang menebarkan wabah di negeriku hampir seluruhnya kukirimkan kepadamu, baik melalui angin, cuaca atau cahaya. Aku merasa haqqul yakin bahwa engkau akan menganggap berita yang kukirimkan kali ini sebagai ihwal yang biasa, “datar”, meski itu tidak biasa atau bahkan tidak pernah terjadi di negerimu walau sekalipun. Karea surat-surat yang kukirimkan kepadamu sebelum ini, aku kira sudah cukup, Istifa. Sudah cukup menjadi pirantimu untuk meresakan segala modus kegetiran yang kusaksikan dan dialami di negeriku.
            Hal itu berarti bahwa antara engkau dan aku hanyalah dibatasi oleh jarak ruang yang sesungguhnya secara esoteris amatlah “artifisial”, picisan: suatu bentuk jarak yang dalam sekejap mata dapat dilihat dan diruntuhkan oleh gelombang rindu yang bersemayam di lautan jiwamu. Sebagaimana Adam dan Hawa dulu yang dipisahkan oleh gunung-gunung, bebukitan, dan sahara-sahara yang tak kepalang luasnya ketika pertama kali mereka diturunkan dari alam surga. Sebagaimana Kais dan Laila yang sama-sama merindukan pertemuan agung setelah keduanya dipisahkan oleh padang-padang tandus keterasingan dan kesunyian-kesunyian malam, sehingga disebuah pagi yang cerah dan menawarkan untaian-untaian harapan, laila menegadah ke cakrawala dan melantunkan puisi kerinduan:”wahai, gelombang burung merpati! Adakah diantara kalian yang sudi dan bersedia meminjamkan sayap untukku? Dengan sayap itu barangkali aku dapat terbang menjumpai kekasihku.” Sebagaimanan Rhama dan Shinta yang pada suatu ketika di penghujung musim kemarau sama-sama berjauhan setelah keduanya dihempas oleh badai takdir yang buruk dan merisaukan: aku yakin sepenuhnya engkau tahu dan memahami, istifa, bahwa antara engkau dan aku demikianlah jua adanya. Yakni, berada dalam sebuah tempayan sukma dan batin yang sama sebagaimana mereka yang saling merindukan.
            Meski demikian, Istifa aku tidak bisa lantas menyamakan seluruh “status” dan posisi pertalian di antara kita dengan “strata” dan wilayah mereka yang dipersatukan
oleh getaran-getaran kerinduan yang amat menawan. Di dalam hatiku yang paling sepi barangkali bergemuruh sebentuk kemasgulan yang kemudian melahirkan pertanyaan, kenapa?
            Pertama, kita sama-sama tahu walaupun tidak berarti mesti selalu merasakan, Istifa, bahwa mereka hidup dan mengarungi sebuah zaman yang ultra natural dan telanjang, dimana aneka kupu-kupu dengan sangat merdeka dan bebasnya mencumbui seribu satu macam bunga yang harumnya kemudian diantara keleluasaan cakrawala, malakut, dan bahkan hingga ke sidratul muntaha. Mereka hidup dan mengurangi sebuah zaman yang masih setia menyenandungkan irama bulan dan kejernihan matahari dimana kehadiran malam dan siang selalu saja disambut secara meriah dan khidmat oleh kawanan lowo dan kelelawar. Mereka hidup dan mengarungi zaman yang sangat dekat dengan awal kejadian semesta di mana musim semi membelah tahun demi tahun secara sempurna sembari mendentingkan kemerduan suara kecapi dari bebukitan dan gunung-gunung yang jauh, yang telah sekian ratus abad ditugaskan Tuhan menjadi pasak alam raya yang senantiasa bersujud.
            Kedua, tentulah juga Istifa memahami dari lembaran-lembaran sejarah yang wangi kesturi, bahwa mereka dilahirkan dan tinggal di ‘suatu’ negeri yang disopiri dan dikomando oleh ‘pujangga-pujangga’ luhur yang mengkiblatkan jiwa dan seluruh sikap hidup mereka terhadap istana hati nurani yang kubahnya selalu saja menyembulkan mega-mega yang berwarna merah muda dan kuning keunguan, yang dalam beberapa kejap kemudian berubah menjadi bidadari-bidadari gemulai yang membangkitkan heroisme cinta, rindu, harapan dan birahi yang amat menggairahkan.
            Mereka dilahirkan dan tinggal di ‘suatu’ negeri yang menjunjung kedamaian hakiki sebagai sanggul dimana kemuliaan perilaku penduduknya memantul lewat kesederhanaan dan kejujuran yang begitu anggun, begitu tulus, begitu menentramkan. Mereka dilahirkan dan ditinggal di ‘suatu’ negeri yang belum retak dimana tegur sapa dan obrolan dapat dijadikan piranti untuk menggapai bulan dan gemerlap lazuardi.
            Tentu jiwa kita-setidaknya jiwaku – tidak akan berpapasan dengan masa renta, tua atau pikun, tapi tetap dalam kondisi muda dan bugar kalau sekiranya kita sanggup membendung gelombang dan arus waktu untuk kemudian membaliknya ke masa lalu: suatu masa di mana pucuk-pucuk cemara dan burung-burung dengan penuh keiklasan selalu saja mendendangkan lagu-lagu kasmaran sebagaimana dulu mereka pernah alami.
            Akan tetapi, hal tersebut hanyalah merupakan cita-cita yang kosong: sebentuk keinginan khayali yang tidak hanya muncul dalam diriku, tetapi juga bangkit dari jiwa Thomas Mour yang berupaya menciptakan pulau Impian, Ciemyanela yang berusaha membangun kota matahari, Mourlely yang mengumumkan Undang-undang naluri dan Gabie yang melakukan perjalanan ke Ikary.
            Itulah yang disebut orang-orang dengan ilusi, Istifa. Bagiku upaya pemunculan ilusi  semacam itu bukanlah merupakan suatu cara untuk menghadirkan kembali renik-renik keagungan persenyawaan yang utuh antara langit dan bumi di masa silam. Karena

dalam babad dan sejarah megeriku tidak pernah dituturkan bahwa ilusi sanggup mengubah kepengapan di siang hari menjadi fajar yang hening. Itulah sebabnya, istifa, ketika kaki angan-anganku beranjak jauh ke kebun-kebun sejarah, hatiku semakin digumpali rengsa dan kesedihan. Tapi, itu pulalah yang hanya bisa kulakukan: menumpuk nestapa dan pilu hingga menjadi hamparan pasir di Wedhi Ombo Salompeng.
Dan tak tahukan engkau, Istifa, bahwa dalam menyusuri semak hari-hari di negeriku hamparan pasir itu bukanlah menyusut, melainkan semakin meluas sekaligus menggunung. Karena hampir dalam setiap waktu fatamorgana selalu saja memperanakkan badai-badai limbah yang sangat menguakkan: plastik kresek yang sobek dan bau muntah, bangkai anjing yang kembung di sungai-sungai dan di tepi pantai, kaleng coca cola yang penyok dan mengerang, asap hutan terbakar yang memabukan, jalan-jalan beraspal yang mulus tetapi menyimpan dengki, tikus-tikus busuk yang memualkan, mobil-mobil dan gedung-gedung yang hangus, tahi kucing, lava dan wedhus gembel, orang-orang gila yang sekarat, sampah-sampah biadab di setiap pasar, dasi-dasi yang kaku dan orogan, kutang mesum bau ingus, celana dalam tertimbun sperma, zakar-zakar yang terjepit batu hingga lecet atau bahkan remuh, puki-puki bolong seperti lapisan ozon dan sebagainya-sebagainya.
            Semua itu, Istifa, dengan leluasa telah memberondongku dan saudara-saudaraku. Sehingga akhirnya kami terdorong ke dalam jurang orkestrasi tangisan yang membahana ke seluruh angkasa: air mata kami menetes dengan deras, menggenang memenuhi lembah-lembah dan ngarai, mengalir dan berlabuh ke samudera, menjelma Trigis, Danube, dan Nill, yang si setiap tepinya berjuta burung hantu berpesta pora mengunyah penderitaan.
            Hal itu terus berlangsung hingga surat ini kukirimkan kepadamu, Istifa. Dan aku tidak tahu kapan gemuruh kepiluan itu akan berakhir. Karena langit negeriku tetap saja koyak-koyak. Bumi negeriku terguncang oleh gempa nafsu. Pohon-pohon nilai tumbang, tersungkur di selokan. Matahari padam. Bulan pecah terkeping-keping. Bintang gemintang berjatuhan di trotoar dan di jalan-jalan. Angin pagi membeku menjadi batu. Angin sore beringas seperti Namrudz.
            Betapa sungguh menyedihkan, Istifa. Dan di puncak bukit kesedihan itu kupaksakan diriku membacakan puisi lara sembari membayangkan dirimu yang telah lama berdomisili di sana, di keteduhan Negeri Impian, di balik Pulau seribu kenanga.
                       
Di negeriku yang wangi zakfaron ini
hutan jati tiba-tiba ranggas
diterkam badai seberang
yang tak pernah dilahirkan nenek moyang
hantu dan gendruwo berjingkrak
menjelma moncong senapan
yang merindingkan sukma dan harapan
hingga anak-anak senja
menggigil ketakutan.

Siapakah yang tiba-tiba merontokkan
daun-daun pepohonan?
Debu-debu keparat beterbangan
tak pernah mengenal mata angin.
Jarum-jarum menancap ngeri
di tembok dan lorong-lorong

--apakah kemarau telah sempurna, Istifa
memberhalakan fatamorgana dan bencana?
Kini setiap subuh
aku sepertinya selalu dipaksa
mengkaji bara dan prahara.

Di atas bubungan rumah kami
Burung-burung gagak
Selalu mengibarkan bendera kematian
apakah kau juga menyaksikan, Istifa?

Di atas padang-padang keresahan
kelaparan menjelma cuaca yang mengerikan
sementara kerusuhan dan benci menjadi topan
yang memporakporandakan mercusuar dan taman bunga
sebaiknya kau jangan bertanya, Istifa
siapakah yang menebarkan api dan dengki?
Karena halilintar telah menggila
menempar nyawa dan benda
hingga batu-batu pecah
dikaki cakrawala.

            Bila telah sampai kepadamu, bacalah surat ini berulang kali, Istifa, dengan airmata dan senyummu yang rupawan. Dan jangan lupa, berterimakasih engkau kepada angin dinihari yang membawanya, atas nama kesetiaanmu yang tulus kepadaku.


                                                                                                                        Yogyakarta, 1998

           

Komentar

  1. Bar bisa baca dan komentar pada pos lain, beberapa hari lalu pada pos mengenai puisi yang diparafrasekan tetapi saya belum sempat meninggalkan jejak komentar. Keburu harus meninggalkan komputer untuk urusan lain.

    Ini ceren lama dan jejak Teteh ternyata sudah lama pula. Butuh banyak perbaikan dari segi kebahasaan. Seperti penggunaan "dimana" itu tidak tepat. Silakan ganti dengan "tempat" atau hilangkan saja jika tidak perlu benar.
    "Yang" juga harus digunakan secara tepat dan jangan berlebihan dalam satu kalimat.
    Tetap semangat, Teh. Saya pada tahun 1999 juga masih berantakan cara menulis serta menyusun struktur kalimat, hi hi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih masukannya. ini pertama kali saya belajar dan memberanikan menulis, memparafrasekan puisi. Nanti saya coba ubah. Ya, masih banyak kesalah tik.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen: Demi Seplastik Daging Qurban

Artikel: