Jalan Menuju Rumahmu
Jalan Menuju Rumahmu
Karya : Acep Zamzam Noor
Jalan menuju rumahmu kian memanjang
Udara berkabut dan dingin subuh membungkus perbukitan
Aku menggelapar
Di tengah salak anjing dan ringkik kuda
Engkau di mana?
Angin mengupas lembar-lembar kulitku
Dan terbongkarlah kesepian dan tulang-tulang rusukku
Bulan semakin samar-samar dan gemetar
Aku menyusuri pantai, menghitung lokan dan bicara pada
batu karang.
Jalan menuju rumahku kian lengang
Udara semakin tiris dan langit menaburkan serbuk
gerimis
Aku pun mengalun bersama gelombang
Meliuk mengikuti topan dan jumpalitan
Bagai ikan, tapi matamu kian tak tergambarkan
Kulit-kulit kayu, daun-daun lontar, kertas-kertas tak
lagi
Menuliskan igauanku semuanya beterbangan dan hangus
Sepertinya putaran waktu. Kini tak lagi sisa
Tak ada lagi yang tinggal pada pasir dan kelopakku
Kian runcing dan pucat. Kembali aku bergulingan
Bagai cacing dan pucat. Bersujud lama sekali
Engkau siapa? Sebab telah kutatah nisan yang indah
Telah kutuliskan sajak-sajak paling sunyi
Memparafrasekan Puisi:
"Jalan Menuju Rumahmu:
karya: Acep Zamzam Noor
Ketika aku berJalan menuju rumahmu rasanya kian memanjang. Terasa Udara berkabut dan dingin suasana subuh membungkus perbukitan.
"Jalan Menuju Rumahmu:
karya: Acep Zamzam Noor
Ketika aku berJalan menuju rumahmu rasanya kian memanjang. Terasa Udara berkabut dan dingin suasana subuh membungkus perbukitan.
Aku menggelapar kedinginan dalam kesunyian
menemaniku, juga hening disekeliling, di tengah salak anjing dan ringkik kuda.
Aku bertanya, “Engkau di mana, ya
Allah?”
Rasanya Angin pun mengupas lembar-lembar kulitku,
Dan terbongkarlah rasa kesepian yang menghujam semua tulang-tulang
rusukku.
Perlahan-lahan Bulan pun semakin terlihat samar-samar
dan tubuh ini semakin gemetar
Aku berjalan menyusuri pantai, menghitung lokan dan
bicara pada batu karang.
Jalan menuju rumahku terlihat kian lengang,
begitupun Udara semakin tiris dan langit pun menaburkan serbuk gerimis
Aku pun berjalan, mengalun
bersama debur gelombang laut, kemudian meliuk
mengikuti derasnya topan dan berjumpalitan
Bagai ikan tak berair, tapi aku
melihat matamu kian tak tergambarkan, seperti Kulit-kulit
kayu, daun-daun lontar, juga kertas-kertas tak lagi Menuliskan igauanku.
Semuanya sudah beterbangan dan hangus terbakar.
Sepertinya putaran waktu. Kini tak lagi tersisa, tak ada
lagi yang tertinggal pada hamparan pasir dan kelopak
mataku kian runcing dan terlihat pucat.
Kembali aku bergulingan Bagai cacing dan wajahku
pucat.
Kembali aku Bersujud lama sekali, sehingga
aku pun bertanya Engkau siapa?
Sebab telah kutatahkan nisan yang indah, juga
Telah kutuliskan pula sajak-sajak paling sunyi
Alangkah baiknya jika parafrase ouisi ini juga dituliskan kesan-kesan atau hal lainnya yang berkaitan dengan puisi. Semacam hasil pe,vacaan atau impresi
BalasHapusIya, saya hanya baru menulisnya saja. Terlalu lama tidak buka blogg ini. Baru sadar ketika ingin menulis lagi, lalu dibaca ulang. Ternyata tulisan ini belum tuntas. Terima kasih.
Hapus