Cerpen: Selamat Jalan Ayah
Cerpen :
Selamat Jalan Ayah
Penulis: KOY
“Innalillahi Wainaillaihi Rojiun!” Itulah yang kuucapkan pertama kali saat
mendengar kabar yang tak terduga, kepulangan orang yang paling kucintai untuk
selama-lamanya. Orang yang membesarkanku sampai saat ini. Ayah, aku tak tahu rasanya
kehilanganmu saat ini. Lemas seluruh sendiku, tak berdaya. Hanya segukan
jeritan tak tertahankan.
“Ayah, maafkan Wanda! … maafkan Wanda! Kemarin tak
sempat menemani Ayah. Ya Allah! … Aku tak sempat bertemu dulu … Ya Allah! Mengapa
Kau ambil Ayahku sekarang!” rasa sesal yang menggunung tak sempat mendampingi
saat-saat terakhirnya.
“Istigfar Nak! Ayah tadi sesudah solat subuh meninggalkan
kita, dua jam yang lalu. Dia sempat menanyakanmu, tapi kamu belum datang, Dia
sudah tenang disisi Allah, semoga Dia mendapatkan rido dan ampunan-Nya. Kita bersiap-siap
saja membawa pulang Ayah. Sudahlah, kita memang kehilangan Ayah, kita harus
sabar dan merelakannya. Allah lebih sayang pada Ayah, biar sekarang Ayah sudah
tak menahan sakit lagi, kita iklaskan kepergiannya” pelukan Ibu semakin kuat seakan memberikan
sisa tenaganya supaya Aku tetap tegar. Karena Aku sekarang yang menjadi tulang
punggung dan harapan keluarga.
Penjelasan dokter di Kotaku,
Ayah penderita gagal ginjal. Penyakit yang diderita Ayah yang selama ini hanya cukup
dirawat di Rumah Sakit dan minum obat, ternyata tidak bisa sembuh cukup dengan
itu. Ayah harus melakukan cuci darah. Saat itu alat pencuci darah tak ada di
Rumah Sakit tempat Ayah dirawat, tarpaksa
harus pergi ke Rumah Sakit di Ibu Kota yang komplit peralatan, dan perawatanmya.
“Ayah! dengan berat hati, saya tidak bisa mengantar
sekarang, karena ada tugas yang tak bisa ditinggalkan di kantorku. Saya besok
akan izin dan mengambil cuti, lalu akan saya menyusul Ayah ke Jakarta,” ucapku
menenangkan Ayah.
“Penyakit Ayah tidak terlalu
parah, di sana ada Pamanmu yang akan mengurus Ayah. Kamu selesaikan dulu
pekerjaannya, setelah selesai kamu susul Ayah ke Jakrata,” jawab Ayah sambil
tersenyum.
Keretapun melaju meninggalkan kota Surakarta, ada rasa sesal
dan hampa melepas Ayah, Ibu dan Adikku berangkat ke Ibu Kota tanpa Aku ikut mereka.
****
Hancur hati dan penyesalan yang tak terkira melihat Ayah terbujur kaku,
diam membisu. Rasanya melayang. Aku marah pada diriku sendiri. Disaat Ayah
membutuhkanku, Aku tak ada disampingnya. Penyesalan tak terkira, seandainya aku
berangkat bersamanya, mungkin aku sempat bertemu dulu denganya. Namun takdir
berkata lain, Aku tak sempat bertemu di akhir hidupnya.
Tangisku tidak akan
menyelesaikan masalah. Aku membuka tutup jenazah, kupandangi sekali lagi wajah
bersih pucat pasi yang sudah tak bernyawa itu untuk terakhir kalinya. Dia diam
dalam kebisuan, tenang, Sekarang sudah menghadap-Nya, terputus sudah hubungan
kami dengan berbeda alam kehidupan. Aku tak bisa lagi bercakap, tertawa
bersenda gurau seperti dulu. Tak akan terdengan suara Ayah memanggilku lagi,
“Ya, Tuhan! Mengapa tak kau pertemukan dulu aku dengan
Ayah di akhir hayatnya, isakku ditengah doa solatku. “Apa yang Kau sembunyikan
sehingga Aku melewatkan pertemuan terakhirku dengannya. Aku tak tahu harus
bagaimana sepeninggalannya. Yang mendukung dan memotivasi Aku selama ini. Ayah
adalah sosok yang paling Aku andalkan disaat Aku terpuruk dalam kehidupanku.
“Subhanalllah, Walhamdulillah, laa haolla walla
quwataa illa billahiil alliyiil aadziim”.
Aku cepat tersadar, tak sepantasnya aku menangisi kepergiannya.
Aku tak bisa melihatnya, tapi Ayah dapat melihatku. Maka aku harus kuat demi
Ayah dan keluargaku. Aku tegarkan kuatkan supaya aku bisa menghantarkan ke
peristirahatan yang terakhir.
tema dan alur apa yang dulu gunakan dalam cerpen ini kak ?
BalasHapus