Cerbung: AK_304-02


Siapakah Mereka  Itu?

Aku bergegas berlari menghampiri mobil mini bus Toyota Rush silver di parkiran, yang dikemudikan Roni. Aku berusaha melihat ke sekeliling stasiun, berharap masih bertemu dengan gadis yang duduk di depanku tadi. Roni berusaha menjelaskan kepadaku tentang identitas korban. Tapi pikiranku masih menempel pada gadis tadi yang bernama Rina. “Ada yang tak beres,” pikirku.
“Apa benar itu dia? Sambil kulihat lagi foto itu, dan ku baca namanya, “Ranti  namanya ada kemiripan. Namun, aku yakin dia manusia, masa dia hantu?” sambil ku lempar foto itu ke dalam fail dokumen,… pikiranku kacau. “ Apa dia kembarannya?” ku cari alternatif  pikiran lainnya.
“Hai …! Kamu kenapa?” tanya Roni mengagetkan lamunanku.
“Eh… enggak … engak apa-apa,” sambil kulihat lagi foto korban.
“Dia cantik sekali, mengapa dia dibunuh?” pertanyaan terus menerus berkecamuk di pikiranku.
“Menurutmu korban kenapa?” Tanyaku lagi.
“Alibiku dia dibunuh pacarnya,” jawab Roni
“Kok bisa?” tanyaku lagi.
“Menurut resepsionis, dia bersama seorang laki-laki yang kemungkinan dia pacarnya.” Katanya lagi. Aku ingat kembali obrolan di kereta tadi. Dia mengatakan, dia melihat pembunuhan, ditusuk, disiksa, mengerikan … uh, kata-kata itu terus terngiang.
Sepertinya ada hubungannya dengan kasus yang sedang ku tangani. Apa dia ingin memberi petunjuk? Dia tidak jelas memberikan alamat kejadian, tapi kasusnya sama dengan yang sedang ku tangani.
*****
Sampailah di rumah korban, mobil diparkir dihalaman rumah, tampak banyak  masyarakat yang takziah, juga ingin mengetahui kasus yang menimpa korban.
Aku menghampiri kedua orang tuanya. “Maaf Bu, saya Ivan dari kepolisian yang mengantar jenazah putri Ibu.” Saya turut berduka cita atas meninggalnya putri Ibu,” kataku membuaka percakapan sambil bersalaman dengan Ibu korban. Ibu korban menerima salamku sambil menangis tak henti-henti.

“Apa yang terjadi dengan anak saya, Pak?” tanyanya disela derai air mata yang tak henti.
“Sabar ya Bu, Putri Ibu bernasib tragis. Saya akan berusaha mencari pembunuhnya.” Kataku lirih. Ibu korban segukan  tak tertahankan begitu sedih. Kemudian aku melanjutkan bersalaman dengan ayahnya. Ayahnya pun memegang bahuku kuat-kuat seolah tak mau lepas, dan ingin mengatakan, “Tolong tangkap pembunuh anakku.” Dia hanya memejamkan mata sambil menarik nafas panjang menahan tangis yang menyesakkan dada.

Aku  tak  tega melihat kedua orang tua renta menangisi kepergian putrinya. Hampir air mataku terjatuh karena tak tahan melihat sedu sedan orang mereka, sepertinya merasa kehilangan sekali. Aku duduk di sebelah Ayahnya sambil menerima salam dari semua pelayat yang menghampirinya. Kulihat beberapa foto Ranti terpampang di dinding. Dia sangat mirip dengan gadis yang kutemui di kereta api tadi. Aku berusaha mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan petunjuk. Tapi tidak ada yang aneh, semuanya biasa-biasa saja. 

Aku berpamitan menunggu di luar, karena masyarakat begitu berjubel memenuhi rumah korban, tumpah ruah suara jerit tangis dari saudara-saudaranya yang merasa syok melihat        mayat korban. Mungkin mereka menyesalkan kematian Ranti begitu mengenaskan.

Beberapa warga membereskan tempat bagi pelayat. Bendera kuning tertancap di pohon depan rumah, menandakan rumah tersebut sedang berkabung. Beberapa ibu-ibu sedang meronce bunga untuk disimpan di keranda jenazah, sebagian lagi sedang memepersiapkan bunga rampai Kuperhatikan sekeliling rumah kalau-kalau ada yang mencurigakan. Tak ada yang aneh, semuanya natural seperti biasanya. Lalu pandanganku tertuju pada dua orang yang sedang asyik ngobrol seperti sedang beradu argumentasi, saling ngotot, ekspresinya seperti sedang mempermasalahkan sesuatu.

Insting berburuku mulai mengalir di pikiranku, Gerak-geriknya membuat aku menjadi bertanya-tanya siapa mereka, dua orang berambut agak gondrong memakai jaket kulit, membuat aku penasaran. Yang satu berambut agak ikal, memakai jaket warna hitam, agak tinggi berperawakan dan langsing. Sedangkan yang satunya agak pendek dan agak gemuk badannya.  Kudekati mereka sambil pura-pura menyulutkan rokok dan duduk di bangku kayu dekat mereka. Kuarahkan pandangan ke depan sambil kutiupkan asap rokok ke atas. Aku tak memperhatikan mereka, tapi telingaku berusaha setajam mungkin menangkap pembicaraan mereka.

“Sialan …, nggak  terdengar jelas,” umpatku dalam hati.
Mereka melihatku seperti mecurigaiku, lalu mereka menghindar berjalan menghilang di tikungan yang terhalang rumah-rumah warga. Kuikuti kepenasaranku, kupercepat langkahku setengah berlari supaya tak tertinggal. Tapi kalah capet, mereka berlari, dan mengendarai sepeda motor Honda Vario  berwarna merah dari parkiran kendaraan.
“Sial … Huh … sialan,” sambil kutendang batu kerikil, bahkan tak terlihat samasekali plat nomor polisanya. Tak lama ada warga yang lewat, lalu kutanya,” Maaf Pak, Bapak tahu siapa mereka?” sambil kutunjuk orang yang kutuju tadi.
“Saya kurang tahu Pak, sepertinya mereka bukan warga sini. Saya juga baru melihatnya,” jawabnya sambil cepet berlalu menghampiri rumah korban. Aku ditingggal sendirian.
“Kira-kira siapa mereka?” tanyaku dalam hati.

Bersambung …
# KOY.28.6.19

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen 2: MBC

Cerpen: Demi Seplastik Daging Qurban

Artikel: