Tembang Macapat
SERAT MAKHUTA
RAJA
Tinjauan Singkat Secara Filologi
1 1. Pendahuluan
Secara etimologi, filologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Philos dan
Philein yang berarti cinta dan logos berarti kata. Pada kedua
kata itu membentuk arti cinta kata atau senang bertutur. Makna ini kemudian
berkembang menjadi senang belajar atau senang kebudayaan. Dalam kamus besar
bahasa Indonesia, Filologi berarti ilmu tentang perkembangan ilmu kerohanian suatu
bangsa dan kekhususannya atau tentang kebudayaan berdasarkan bahasa dan
sastranya.
Pada dasarnya dalam filologi yang terpenting adalah
bagaimana sebuah teks yang kuno dengan aksara serta bahasa yang sudah mati menjadi hidup, terbaca dan terkuak
isinya. Untuk mencapai tujuan itu tentu saja harus melalui cara atau metode,
cara ini terdiri dari beberapa langkah antara lain ; studi katalog, inventarisasi,
deskripsi, penguraian, suntingan, telaah, catatan, dan terjemahan. Namun pada
tahap penangannya langkah ini terbagi dua. Pertama penelitian filologi yang
berfokus pada teks disebut kritik teks (textual criticism) atau tekstologi
(textology). Kedua penelitian filologi yang berfokus pada naskahnya atau bahan
yang digunakan untuk menuliskan teks itu, disebut kodekologi (codexology).
Jadi dapat disimpulkan bahwa Filologi adalah ilmu
yang membahas cara penelitian teks untuk dapat menarik pemahaman nilai-nilai
kebudayaan yang ada di dalam teks tersebut baik yang tersurat maupun tersirat.
Untuk memahami Serat Makutha Raja ini, digunakan
telaah atau kajian teks dengan sumber naskah yang sudah diterjemahkan dari
naskah aslinya dalam tulisan dan bahasa jawa kuno dan diterjemahkan dalam
bahasa jawa dan bahasa indonesia, sehingga dapat dipahami maknanya.
2. Desksripsi
singkat Serat Makuta Raja kode naskah
PPS/Jw/11/80
Serat
Makuta Raja ditulis oleh Pangeran
Buminata dari Yogyakarta, pada tahun 1937 Masehi. Buku ini ditulis dalam
tulisan Jawa kuno dan dalam bentuk tembang macapat, yang terdiri dari 44 pupuh,
yakni :
1. Pupuh Dhandhanggula 14 pada
2. Pupuh Asmarandana 10
pada
3. Pupuh Kinanthi 4 pada
4. Pupuh Sinom 7 pada
5. Pupuh Durma 9 pada
6. Pupuh Pangkur 9 pada
7. Pupuh Asmarandana 10
pada
8. Pupuh Dhandhanggula 7 pada
9. Pupuh Mijil 7 pada
10. Pupuh Megatruh 9 pada
11. Pupuh Sinom
9 pada
12. Pupuh Asmarandana 8 pada
13. Pupuh Kinanthi 9 pada
14. Pupuh Pangkur 7 pada
15. Pupuh Pocung 15 pada
16. Pupuh Dhandhanggula 5 pada
17. Pupuh Kinanthi
9 pada
18. Pupuh Mijil 13 pada
19. Pupuh Kinathi 9 pada
20. Pupuh Dhandhanggula 26
pada
21. Pupuh Asmarandana 23
pada
22. Pupuh Sinom 17
pada
23. Pupuh Dhandhanggula 37
pada
24. Pupuh Sinom 38
pada
25. Pupuh Kinathi 42
pada
26. Pupuh Mijil 40 pada
27. Pupuh Pocung 39
pada
28. Pupuh Asmarandana 43 pada
29. Pupuh Gambuh 39 pada
30. Pupuh Pangkur 32 pada
31. Pupuh Maskumambang 47 pada
32. Pupuh Megatruh 34 pada
33. Pupuh Dhandhanggula 40 pada
34. Pupuh Sinom 37 pada
35. Pupuh Durma 37 pada
36. Pupuh Mijil 42
pada
37. Pupuh Kinanthi 35 pada
38. Pupuh Pocung 41 pada
39. Pupuh Maskumambang 42 pada
40. Pupuh Asmarandana 39 pada
41. Pupuh Megatruh 37 pada
42. Pupuh Gambuh 40 pada
43. Pupuh Dhandhanggula 46 pada
44. Pupuh Sinom 1 pada
Naskah
Serat Makuhta Raja yang asli disimpan di Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta
tanggal 2 Mei 1979 dengan nomer kode 2710. Serat Makuta Raja ditulis kembali oleh
Sri Widati Pradopo dan dialih aksarakan oleh Suyamto.
Buku ini terdiri dari176
halaman dan diterbitkan oleh Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan
Daerah, Jakarta tahun 1981.
Surat Makutha Raja ditulis dengan tinta warna hitam. Tulisannya bagus,
jelas. Panjang tulisan setiap lariknya 10 cm, atau 15 larik. Tebalnya 322
halaman. Kertas yang digunakan untuk menulis berwarna putih tanpa cap air. Ukuran kertas 16 ½ x 19½ x 1 cm. Tepi kertasnya diberi garis
sebagai tanda berupa cap-capan dengan
bunga kecil-kecil. Di sebelah atas tiap lembarannya ada tulisan Jawa cap-capan berbunyi “G.P.H. Buminata Mayor
Beidhen Generalen Setap Ngajogyakarta Hadiningrat”.
Isi
dari Serat Makutha Raja adalah nasehat bagi raja agar dapat memegang kendali
pemerintahan dengan sempurna.
Dan disamping berisi nasehat, buku ini juga menyajikan sebuah episode yang nyata, yang diangkat dari peristiwa Kanjeng Sunan Pakubuwana. Cerita itu secara tidak langsung disisipkannasehat tentang cara-cara memegang kendali pemerintahan
yang benar.
Dan disamping berisi nasehat, buku ini juga menyajikan sebuah episode yang nyata, yang diangkat dari peristiwa Kanjeng Sunan Pakubuwana. Cerita itu secara tidak langsung disisipkannasehat tentang cara-cara memegang kendali pemerintahan
yang benar.
Nasehat-nasehat tersebut ditulis dalam bentuk macapat, secara Etimologi macapat
diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu
maksudnya cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Namun ini bukan
satu-satunya arti, penafsiran lainnya ada pula. Seorang pakar Sastra Jawa, Arps
menguraikan beberapa arti-arti lainnya di dalam bukunya Tembang in two traditions.
Selain yang telah disebut di atas,
arti lainnya ialah bahwa -pat merujuk kepada jumlah tanda diakritis (sandhangan)
dalam aksara Jawa yang relevan dalam penembangan
macapat.
Struktur macapat biasanya dibagi menjadi beberapa pupuh,
sementara setiap pupuh dibagi menjadi beberapa pada. Setiap pupuh
menggunakan metrum yang sama. Metrum ini biasanya tergantung kepada watak
isi teks yang diceritakan.
Jumlah pada per pupuh
berbeda-beda, tergantung terhadap jumlah teks yang digunakan. Sementara
setiap pada dibagi lagi menjadi larik atau gatra. Sementara
setiap larik atau gatra ini dibagi lagi menjadi suku kata atau wanda.
Setiap gatra jadi memiliki jumlah suku kata yang tetap dan berakhir
dengan sebuah vokal yang sama pula.
Aturan mengenai penggunaan jumlah
suku kata ini diberi nama guru wilangan. Sementara aturan pemakaian
vokal akhir setiap larik atau gatra diberi nama guru lagu.
Jenis metrum macapat, berupa jumlah metrum baku macapat
ada limabelas buah. Lalu metrum-metrum ini dibagi menjadi tiga jenis, yaitu tembang
cilik, tembang tengahan dan tembang gedhé. Kategori tembang
cilik memuat sembilan metrum, tembang tengahan enam metrum dan tembang
gedhé satu metrum.
Supaya lebih mudah membedakan antara guru
gatra, guru wilangan lan guru lagu dari tembang-tembang tadi,
maka setiap metrum ditata di dalam sebuah tabel seperti di bawah ini.
3. Suntingan
Singkat Teks Serat Makuta Raja kode
naskah PPS/Jw/11/80
Untuk lebih
mengenal macapat yang digunakan dalam Serat Makhuta Raja, berikut kutipan macapat
yang ditulis manuscrip, yaitu sudah diterjemahkan dari naskah aslinya, dalam
patokan pupuh Dhandhanggula.
1.
Dhandhanggula
NO.
|
MACAPAT
|
TERJEMAHAN
|
1.
|
Lir
bremara ngisep madu manis
|
Ibarat
kumbang menghisap madu manis
|
manasaya
denira mrih guna
|
Biar
berguna
|
|
pemba
sarjana esthane
|
Seperti
sarjana
|
|
kang wus
prataseng tembung
|
Yang
telah menguasai ucapan
|
|
Kontap
kunus ing-uni
|
Seperti
yang sudah-sudah
|
|
Tan wruh
yen tuneng basa
|
Tidak
mengetahui pentingnya bahasa
|
|
Ing
bebasanipun
|
Seperti
|
|
Nenelat
nular lupiya
|
Memperlambat
pengaruh
|
|
Teka
ndarung drenging cipta dennya mardi
|
Datang
dari cipta seperti jalan
|
|
Sampat
sampeting gita
|
Tempat
yang berguna
|
2.
Asmarandana
1.
Asmara
manawung wiwit/ kang sinuwun Senapthya/ kaluhuraning keprabon/ kulikal mulku
sasekat/ pinarjurit ing jagat/ pinarjurit ing jagat/ Sumageng kawirutaman//
Maksud dari
macapat Asmaranda di atas adalah menceritan tentang Kanjeng Panembahan Senapati
adalah sultan yang berkuasa di tanah Jawa dan kekuasaannya juga meluas.
3.
Kinanti
1.
Kinanthi
kanthanira nung/ kaonanging narapati/ Jeng Sultan Seda karapyak/ Pangjenengan
ing sang aji/ ngajiju marmeng kraharjan/ pinuja sanungsa Jawi//
Maksud dari
kinanti di atas adalah menceritakan tentang pengganti Kanjeng Panembahan
Senapati adalah kanjeng Sultan Seda Krapyak. Beliau naik tahta kerajaan Mataram
pada tahun Jawa 1523 (guna menambah tata
aji).
4.
Sinom
1.
Ginantyanan
ingkang sekar/ Sinomnya ingkang gumanti/ Linulutan prapandhita/ Mulana iya
sayit Ngarbi/ Pra iman angamini/ Jroning kutbah tetepipun/ Ngalahuma
jamalsutan/ Amiru Mentaramiyi/ Ya imaman amil anhu wa ngadilin//
Maksud dari sinom di atas
menceritakan tentang Sultan Seda Krapyak adalah sultan yang menguasai seluruh
kekuasaan di tanah Jawa ini, termasuk para makhluk halusnya. Wibawanya terasa
di seluruh negerinya, sehingga pemerintahannya itu dilambangkan sebagai samudra
luas tak bertepi (samodra gung tanpa
tepi).
Berdasarkan cerita babad karya
Kanjeng Sultan yang ketujuh (Pangeran Harya Buminata) diceritakan tentang
Sultan Yogya yang pertama ketika masih bergelar Mangkubumi. kisah tersebut diceritakan
dalam Serat Cebolek dan Serat Makutha Raja, yang ditulis pada tanggal 24 Juni 1937 Masehi (Lima belas
Robiulakhir tahun Ehe 1868).
Dari 44 pupuh yang terdapat
pada macapat tersebut, 17 pupuh di awal menceritakan pemimpin-pemimpin yang
memegang tampuk kepemimpinan Kerajaan Mataram sampai menjadi Kesultanan
Yogyakarta. Diceritakan pula dalam kepemimpinan tersebut berbagai karakter dan
sifat kepemimpinan yang dimiliki para pemimpin kerajaan, baik yang berperangai
baik, adil, dicintai rakyatnya, juga perangai
kurang baik, sombong, dan kurang disenangi rakyatnya. Luas wilayah
kepemimpinan kerajaan Mataran saat itu mulai dari pulau Jawa dan Madura juga
sampai ke seberang. Kedekatan pemimpin dengan Kompeni sangat membantu kerajaan
tersebut untuk memperluas wilayahnya. Sehingga Kompeni dapat dengan mudah
memecah belah kerajaan tersebut dan menindas rakyatnya.
Selanjutnya dari pupuh 18
sampai 22 menceritakan nasihat-nasihat untuk seorang pemimpin yang bersumber
dari kitab suci al-quran dan hadis-hadis rosul. Pada pupuh-pupuh selanjutnya
diceritakan bagaimana pengaruh agama islam sangat tampak dalam kehidupan dan kepemimpinan
pemerintahan kerajaan Mataram, dan bagaimana berpengaruhnya ajaran agama islam
dalam penegakan hukum kerajaan untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang
dihadapi kerajaan. Terlihat pula sisi religius para pemimpinnya dalam berbuat
keadilan untuk rakyatnya.
Serat Makutha Raja adalah babad yang menceritakan para pemimpin kerajaan Mataram
sampai menjadi Kesultanan Yogyakarta, dengan pemimpin yang pertama Kanjeng
Panembahan Senapati (1509 Tahun Jawa), kemudian Kanjeng Sultan Seda Krapyak
(1523 Tahun Jawa), Kanjeng Sultan yang dimakamkan di Tegal (1561), Kanjeng
Sunan Amangkurat II (1600 Tahun Jawa), Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III
(1627 Tahun Jawa), Sultan Hamengkubuwana (1630 Tahun Jawa), kemudian digantikan
keturunannya (1642 Tahun Jawa), Kanjeng Sultan Hamengkubuwana II (1650 Tahun
Jawa), hamengkubuwana III (1739 Tahun Jawa), Sultan Hamengkubuwana IV (1741
Tahun Jawa), Sultan Hamengkubuwana V (1750 Tahun Jawa), Sultan Hamengkubuwana
VI (1783 Tahun Jawa), Sultan Hamengkubuwana VII (1806).
Cerita ini diakhiri dengan
pelajaran yang mengupas Serat Bimasuci
di Mesjid Kerajaan yang dihadiri oleh Pangeran Mangkubumi, Kiai Cabolek, Kiai
Winong dan Mas Ketib Anom. Cerita ini pun selesai ditulis pada hari Ahad wage,
tanggal sebelas Syawal Tahun Ehe 1868. Atau pada tanggal lima Desember 1937
Masehi.
4. Penutup
Dapat
disimpulkan Serat Makutha Raja adalah
dapat dikatakan babad tanah Jawa,
ditulis dalam bentuk macapat yang terdiri dari 44 pupuh. Cerita ini
ditulis pada tahun 1868 tahun Jawa atau 1937 Masehi. Naskah aslinya ditulis
dalam aksara dan bahasa Jawa Kuno. Pangeran Harya Buminata dapat menceritakan
dengan rinci para pemimpin Kerajaan Mataram pada saat itu sampai menjadi
wilayah kesultanan Yogyakarta sekarang ini.
5. Daftar Pustaka
Widati
Pradopo Sri dan Suyamto. 1981. SERAT MAKHUTA RAJA. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; PROYEK PENERBITAN BUKU SASTRA INDONESIA
DAN DAERAH
Sumber : Wawacan Serat Makuta Raja
(Sri Widati Pradopo dan Suyamto)
Komentar
Posting Komentar