Cerpen 1: MBC
Cerpen 1:
MEMANJAT BUKIT CAHAYA
Ø Kuswaidi Syafei
Ø Kuswaidi Syafei
Matahari telah lingsir ke
arah barat, beranjak menyongsong kolam kebakaan yang teramat luas dan dalam,
tempat ia melihat wajahnya sendiri yang sunyi dan abadi. Sinarnya yang mulai
memerah membias menghiasi langit Jember yang telah retak, membentuk garis-garis
berliku dan terpatah-patah yang sangat sulit untuk diterima dengan lapang dada:
kemasgulan yang memang sejak lama mengeram di ranting-ranting pohon jiwaku
tidak kabur karenanya. Bahan semakin menyempurnakan eksistensinya.
“Bagaimana
engkau memandang matahari saat ini, Mas? Sepotong kesunyian melompat dari lidah
adikku Istifa, memulai obrolan yang sesungguhnya menyangkut persoalan serius
tapi diungkapkan dengan bahasa yang amat santai. Maklumlah Istifa seorang yang
periang yang tidak mau mengerutkan kening meski berhadapan dengan problematika
yang amat pelik sekalipun.
“Bagiku”,
sembari menikmati keteduhan pohon mangga dan pohon rambutan di halam kos
Istifa”, matahari yang memancarkan sinarnya saat ini tak lain ‘hanyalah’
merupakan sebentuk penegasan bahwa pisau kepedihan telah menggores pelataran
tanah ini, daerah ini tempat yang telah didiami nenek moyang kita bahwa
sinarnya tidak lagi berfungsi sebagai pencerahan dan penyejukan, melainkan
sebagai teguran, peringatan,, atau tanda datangnya suatu marabahaya yang
sungguh mengenaskan”.
“kini
aku melihat mataharisebagai suatu cermin raksasa yang sedang menggambarkan
pertikaian amat mengerikan”. Kedua mata Istifa yang bening menerobos padang
luas cakrawala. “ Setiap hari pertikaian tersebut melahirkan gempa dan tanah
longsor di jiwaku, mungkin juga jiwamu.
Karena yang senantiasa terkalahkan tak lain adalah kemanusiaan dan hati nurani.
Sedangkan nafsu dan angkara murka selalu berpihan pada keangkuhan dan
kemenangan, ngeri!”
Wajah Istifa yang bundar
bagaikan purnama tetap saja ceria. Ia sanggup mengendalikan emosinya meski
sedangkan memasuki kancah wacana persoalan yang sangat rumit dan menjengkelkan.
“Bagaimana kita mesti
menyiasati kenyataan getir tersebut, Kak, bila dari hari ke hari ia tidak
semakin menipis dan sirna, malainkan semakin menumpuk dan runyam?” celetuk
adikku Subay yang masih nakal dan selalu membuat kecerobohan.
Entah kenapa Subay kali
ini cukup bijak menyambung obrolan kami. Padahal biasanya ia suka nyerocos dan
tertawa cekikikan.
Mendengar pertanyaan yang
lumayan sulit itu, pikiranku kemudian sibuk mencari solusi yang dapat dijadikan
jawaban peresentatif. Istifa juga terlahir merenung, menyusuri tempat
persinggahan yang teduh bagi batinnya. Kami bertiga dicekam diam sejenak,
laksana bongkahan-bongkahan batu yang diselimuti kesunyian di malam gulita.
“Mungkin sebaliknya kita
mesti bertekad melakukan pendakian spiritual. Yaitu dengan upaya melalmpaui
strata kehidupan benda-benda, satu atau dua tahap diatasnya”. Istifa mulai
mencerahkan keheningan dengan menggulirkan kejernihan pemikirannya.
“Kita bagaimanapun
dituntut mamapu meletakkan diri di tingkat ketinggian tertentu, di puncak
Sinai, melebihi dunia awan dan mendung. Sehingga dengan demikian, di samping
kita tidak akan lagi berpapasan dengan renik-renik malapetaka atau kegetiran,
kita juga akan sanggup menyulap segala nasib yang diwarnai kemurungan menjadi
keindahan aneka taman bunga yang begitu mengasyikkan: kita senantiasa tersenyum
menghadapi berbagai kemungkinan”.
Bagaimana engkau dapat
menjelaskan secara gamlang, Mbak, bahwa hal itu merupakan sesuatu yang possible
bagi kita?” Subay digelayuti keremangan tentang ide bagus yang dilontarkan
Istifa.
“Apa yang kusampaikan
barusan merupakan sekelumit paparan psikologis tentang wilayah esoteris
manusia”. Wajah Istifa yang bundar semakin cantik, ceria dan percaya diri. “ia
akan menjadi suatu kenyataan manakala kita mampumemberikan makna paling sejati
terhadapa segala sesuatu yang kita temui. Bukankah kesedihan itu sesungguhnya
adalah kebahagiaan yang tidak menemukan persemayaman hakiki dalam jiwa kita?
Artinya, manakala kita menyelami kesedihan hingga ke dalam pankreasnya yang
hakiki, yaitu keceriaan. Karena antara kesedihan dan kebahagian hanyalah
dipisahkan dipisahkan oleh yang menerpa kita. Jika garis tersebut kita
hancurkan, maka kesedihan dan kebahagian menjadi lebur dalam sebuah tempayan
jiwa, menjadi satu, tidak dapat dipisahkan atai dibedakan.
Subay mengganggukan
kepalanya sebagai pertanda paham dan sepakat terhadap penjelasan Istifa.
Diam-diam dalam hati, aku mengakui bahwa istifa seorang perempuan yang pandai
dan cukup bijak, meski ia tidak pernah bersentuhan dengan bangku kuliah. Kepada
pengalaman-pengalaman yang dilewati-utamanya yang pahit dalam pertualangan
hidupnya, barangkali ia telah banyak berguru.
Kami bertiga sepakat untuk
menjalani laku pendakian spiritual sebagaimana yang dikemukakan Istifa.
Sebagaimana layaknya sebuah ritus yang cukup sakral, kami memulainya terlebih
dahulu dengan melakukan semacam ‘upacara’, yaitu mendaki bersama secara khidmat
menuju ke puncak Rembangan, sebuah bukut cahaya yang nulai keindahannya mampu
menggetarkan hati, memunculkan beribu pesona surgawi yang amat menggairahkan:
amboi, bulan di situ telah kawin dengan asmarandana.
Kami bertiga berangkat
mengendarai motor Honda astrea, menyusuri jalan berliku sekaligus mendaki.
Bunga-bunga flamboyan yang bertaburan di sepanjang jalan tiba-tiba berubah
menjelma bidadari-bidadari telanjang yang sedang mandi di sebuah perigi atau
sungai penetian. Kami kemudian terlena bagaikan petualang-petualang muda yang
sedang terkimbang di atas sebuah perahu di mana jiwa mereka dengan mesranya
didayualunkan oleh antologi impian dan harapan ketika sebuah pulau sudah terlihat
dekat dan menunggu dengan kesetiaan yang penuh kidungan dan nyanyian rindu.
Dalam pendakian yang kebak
dengan kelenaan itu, tiba-tiba motor yang kami kendarai tergelincir ke pinggir
aspal: “prak!” Subay terjatuh dan keriangan batinnya seketika melayang entah ke
mana: wajahnya menjadi pucat. Tali sandal jepitku putus: potret sejarah dan
masa depanku yang kugantung di dinding sukma kemudian mengental bertumpu ke
masa kini, namun hanya sebentar. Dan Istifa, O Istifa: ia tetap saja seperti
karang atau pohon kelapa yang ditiup angin di musim penghujan.
Di wajah Subay aku melihat
sebuah rumah tua yang sepi penghuninya sejak ratusan tahun silam: sunyi,
tinggal angin lanang yang bermain-main dengan daun-daun purba. Di wajah Istifa
aku menyaksikan samudra menyala, memantulkan ribuan warna senja dan subuh yang
azali. Dan aku menatap diriku sendiri, seorang calon pujangga besar yang
ditunggu generasi masa depan negeri ini, berubah menjadi rancang bangun sebuah candi
yang akan mengibarkan bendera langit, keagungan, prahara dan sekaligus
keabadian.
“Bagaimana nasibku, Kak?” subay masih belum mampu
menghadirkan seluruh dimensi dirinya.
“Dalam pendakian spiritual seperti ini, fenomena
tergelincir jatuh, atau pingsan merupakan ihwal yang wajar yang mesti kita
nobatkan sebagai guru. Kita mesti mengenyam semua itu dengan penuh nukmat,
sebagaimana pantai yang senantiasa syahdu menelan petuah-petuah gelombang”.
Suaraku menyadarkannya kembali.
Inilah barangkali saat yang paling tepat bagi kita untuk
mengaplikasikan konsepsi pendakian spiritual untuk pertama kalinya. Kita
langsung memualinya sajak saat ini: memberikan makna yang cukup arif terhadap
apa saja yang mengubah duri menjadi mawar atau kenanga”. Wajah Istifa
memantulkan aura senja yang keemasan.
Lalu, kami melanjutkan pendakian kembali, menyusuri jalan
menanjak dan berliku, menyanyikan maddah bunga flamboyan, bercumburayu dengan
cuaca, menikmati sayup-sayup suara binang di kejayaan mengenggam pujian Mazmur
di dada, menginjak-injak panji pabrik, super market dan etalase, menabur embun
dan bintang, memanjat Rembangan sebagai bukit cahaya sembari melantunkan puisi
kaum salik:
“Kami
mesjid atau gereja, berkubah malakut bersanggul pucuk cemara. Berziarah ke
pulau baka. Melempar berjuta firdaus ke alam maya. Sambil bersiul dan menari.
Yogyakarta, 1988
Komentar
Posting Komentar